NICE, KOMPAS.com - Seorang pria digugat 10.000 euro (Rp 121 juta) oleh mantan istrinya karena ketika jadi suami pria itu tidak mampu berhubungan seks dengannya selama 'beberapa tahun'.
Pria Perancis berusia 51-tahun itu, yang hanya disebut sebagai Jean-Louis, mengabaikan salah satu perannya sebagai suami, yaitu memuaskan istrinya, Monique, secara seksual. Daily Mail, Selasa (6/9/2011), melaporkan, perempuan 47 tahun menggugat Jean Lous untuk membayar ganti rugi sebesar 10.000 euro dan membawa kasus perceraiannya ke pengadilan banding.
Pengadilan mengabulkan tuntutan Monique dan mengharus sang suami membayar ganti rugi. Di pengadilan di Aix-en-Provence terungkap, pasangan itu telah menikah selama 21 tahun dan membesarkan dua orang anak di Riviera Perancis. Namun stres karena kerja dan penyakit menghalangi Jean-Louis dapat memenuhi tugas sebagai suami yang harus memuaskan hasrat seksual isterinya, kata pengacaranya. Perempuan itu dalam gugatanya menyatakan seks yang tak memuasakan dan rendahnya libido sang suami telah membuat perkawinan mereka bubar.
Ketika mengumumkan putusannya, hakim mengutip hukum sipil dan pidana Perancis, yang menegaskan bahwa hubungan seksual merupakan bagian dari sebuah pernikahan. Masalah hubungan seks yang jarang, berserta kekerasan dan perselingkuhan, sering jadi sebab dari ratusan klaim perceraian di Perancis. Namun sangat jarang seorang suami atau istri membayar ganti rugi dalam bentuk uang khusus untuk alasan kegagalan dalam memuaskan pasangan secara seksual. Kasus serupa terjadi di Perancis tahun 2000.
Ada kencederungan, orang Perancis punya masalah dalam hubungan seks suami-isteri. Sebuah survei oleh French Institute of Public Opinion yang menanyakan 1.000 orang dewasa menemukan bahwa 76 persen dari responden 'mengalami masalah terkait dengan kehidupan seks yang buruk'. Setengah dari mereka yang disurvei juga mengatakan, mereka 'tidak punya keinginan untuk bercinta. Lebih dari sepertiga perempuan Perancis mengaku sakit kepala, kelelahan atau 'tidak di depan anak-anak' sebagai alasan untuk mengatakan tidak ketika diajak berhubungan seks oleh pasangan mereka. Satu dari enam pria mengaku telah menggunakan alasan serupa.
Share
10
Selasa, 06 September 2011
Orgasme Sampai ke Langit
AMSTERDAM, KOMPAS.com - Begitulah Radio Nederland versi online memberi judul salah satu artikelnya akhir pekan lalu. Judul itu bukan sekedar kiasan, tapi bisa jadi kenyataan.
Sebuah perusahaan escort Belanda, Girls Company, yang seakan kekurangan tempat untuk menyediakan jasa seks komersial, membuka layanan baru: seks di udara. Untuk mempopulerkan layanan ini, perusahaan itu membuat sayembara yang memberi kesempatan bagi setiap orang untuk bercerita, berdasar pengalaman pribadi, tentang tempat-tempat paling seru untuk bercinta. Misalnya di ruang ganti baju di sebuah toko, di gudang, di kantor dan lain-lain.
Radio itu menyebutkan, sekalipun penyelenggaranya sebuah perusahaan jasa seks komersil di Belanda, bukan berarti pesertanya harus dari negeri kincir angin. Siapa saja bisa ikut. Pemenang nantinya bisa menikmati hadiah menumpang pesawat jet khusus sambil 'ditemani seseorang'.
Hadiah juga bisa disesuaikan dengan identitas seksual pemenang, asal tidak melanggar hukum. Dengan kata lain, Girls Company tidak hanya untuk peserta heteroseksual, perserta homoseksual juga boleh ikut.
"Langkah ini diambil sebagai jawaban kekesalan karena bisnis (seks) kerap dipandang negatif," kata direktur perusahaan, Wouter van der Heijden, seperti dimuat oleh harian De Telegraaf. Belakangan di Belanda, usaha jasa seks komersial sering dituduh terlibat perdagangan manusia.
Heijden menambahkan, mereka yang gemar dengan layanan perempuan atau lelaki panggilan, merasa pengalaman menikmati seks di udara bakal luar biasa. Ia sedikit menyombong dengan menyebut sayembara ini pertama kali di dunia. Namun ia tak menyanggah layanan jasa seks dengan memakai pesawat terbang sudah pernah dilakukan di negara lain. Perusahaan di Amerika Serikat terlebih dulu membuka servis semacam itu.
Inggris sempat menyediakan layanan tersebut, tapi lalu dilarang oleh dinas lalu lintas penerbangan, karena membahayakan keselamatan, pilot tak bisa konsentrasi.
"Di Inggris jasa tersebut diberikan di dalam pesawat kecil berbaling-baling. Ruang antara pilot dan kabin penumpang cuma dibatasi gorden. Kami nantinya berbeda, ini pesawat dengan kabin delapan penumpang," ujar Wouter van der Heijden seperti dikutip De Telegraaf.
Belum tahu apakah sayembara tersebut bisa menjadi penglaris layanan terbaru perusaahan seks komersial di kota Amsterdam tersebut. Harga layanan seks di udara itu dibandrol 6.000 euro (atau Rp 72 juta) sekali jalan. Pesawat akan terbang berputar-putar di atas wilayah udara Belanda. Oiya, 6.000 euro itu baru paket standar.
Sumber :Radio Nederland
Share
153
Sebuah perusahaan escort Belanda, Girls Company, yang seakan kekurangan tempat untuk menyediakan jasa seks komersial, membuka layanan baru: seks di udara. Untuk mempopulerkan layanan ini, perusahaan itu membuat sayembara yang memberi kesempatan bagi setiap orang untuk bercerita, berdasar pengalaman pribadi, tentang tempat-tempat paling seru untuk bercinta. Misalnya di ruang ganti baju di sebuah toko, di gudang, di kantor dan lain-lain.
Radio itu menyebutkan, sekalipun penyelenggaranya sebuah perusahaan jasa seks komersil di Belanda, bukan berarti pesertanya harus dari negeri kincir angin. Siapa saja bisa ikut. Pemenang nantinya bisa menikmati hadiah menumpang pesawat jet khusus sambil 'ditemani seseorang'.
Hadiah juga bisa disesuaikan dengan identitas seksual pemenang, asal tidak melanggar hukum. Dengan kata lain, Girls Company tidak hanya untuk peserta heteroseksual, perserta homoseksual juga boleh ikut.
"Langkah ini diambil sebagai jawaban kekesalan karena bisnis (seks) kerap dipandang negatif," kata direktur perusahaan, Wouter van der Heijden, seperti dimuat oleh harian De Telegraaf. Belakangan di Belanda, usaha jasa seks komersial sering dituduh terlibat perdagangan manusia.
Heijden menambahkan, mereka yang gemar dengan layanan perempuan atau lelaki panggilan, merasa pengalaman menikmati seks di udara bakal luar biasa. Ia sedikit menyombong dengan menyebut sayembara ini pertama kali di dunia. Namun ia tak menyanggah layanan jasa seks dengan memakai pesawat terbang sudah pernah dilakukan di negara lain. Perusahaan di Amerika Serikat terlebih dulu membuka servis semacam itu.
Inggris sempat menyediakan layanan tersebut, tapi lalu dilarang oleh dinas lalu lintas penerbangan, karena membahayakan keselamatan, pilot tak bisa konsentrasi.
"Di Inggris jasa tersebut diberikan di dalam pesawat kecil berbaling-baling. Ruang antara pilot dan kabin penumpang cuma dibatasi gorden. Kami nantinya berbeda, ini pesawat dengan kabin delapan penumpang," ujar Wouter van der Heijden seperti dikutip De Telegraaf.
Belum tahu apakah sayembara tersebut bisa menjadi penglaris layanan terbaru perusaahan seks komersial di kota Amsterdam tersebut. Harga layanan seks di udara itu dibandrol 6.000 euro (atau Rp 72 juta) sekali jalan. Pesawat akan terbang berputar-putar di atas wilayah udara Belanda. Oiya, 6.000 euro itu baru paket standar.
Sumber :Radio Nederland
Share
153
Senin, 05 September 2011
Catatan dari Tragedi Saipul Jamil
Mudik lebaran, harus diakui menjadi fenomena tersendiri bagi Indonesia. Hampir dipastikan, tradisi mudik lebaran ini tak akan ditemui di negara lain di dunia. Namun seiring berlangsungnya tradisi ini dari tahun ke tahun, terselip pula tragedi yang sesungguhnya sangat tragis. Arus mudik, ternyata membawa dampak berupa jatuhnya korban tewas yang sia-sia akibat kecelakaan lalu lintas.
Menurut data sementara dari Posko Angkutan Lebaran Terpadu Kementerian Perhubungan hingga H+1 yang dirilis 1 September 2011, tercatat terjadi 2.773 kecelakaan lalu lintas selama mudik lebaran. Sejumlah kecelakaan lalu lintas ini mengakibatkan 433 orang korban meninggal dunia dan 729 orang luka berat. Ini berarti pula, dari tahun ke tahun jumlah korban yang bergelimpangan di jalan terus meningkat dan nyaris tak mendapatkan perhatian dari berbagai pihak. Kecuali, sekadar menjadi konsumsi berita media massa.
Sampai kemudian, terjadi kecelakaan fatal yang melibatkan penyanyi dangdut Saipul Jamil di ruas tol Cipularang. Sangat mudah dimengerti, sebagai seorang artis dan selebriti, kecelakaan yang merenggut nyawa Virginia Anggraeni ini menjadi perbincangan hangat di media sosial. Betapa tidak, dalam kecelakaan dimaksud, Virginia yang istri Saipul Jamil ini dikabarkan tewas di lokasi kejadian.
Sebagai pemerhati keselamatan di jalan raya, saya tergelitik untuk membahas tragedi ini. Bahwa apa yang dialami Saipul Jamil, sebenarnya merupakan peristiwa yang sudah berulang-ulang dan hampir terjadi setiap saat di berbagai ruas jalan di Indonesia. Hasilnya, Indonesia termasuk dalam daftar negara dengan angka kecelakaan di jalan yang tergolong tinggi.
Sebuah data yang dirilis WHO (World Health Organization) menyebutkan jumlah korban tewas akibat kecelakaan lalu lintas di Indonesia pada tahun 2007 diestimasi mencapai angka lebih dari 37 ribu jiwa. Kendati menurut laporan resmi yang dikeluarkan pemerintah, korban tewas pada tahun tersebut hanya sekitar 16.500 jiwa.
Terlepas dari angka-angka yang mestinya mengundang keprihatinan tersebut, saya menengarai setidaknya 3 (tiga) faktor utama yang menopang tingginya angka kecelakaan lalu lintas di Indonesia. Yang pertama, terkait penegakan hukum di jalan dan yang kedua adalah buruknya fasilitas dan sarana transportasi di Indonesia. Lalu yang ketiga, rendahnya pengetahuan masyarakat terhadap kendaraan yang dimilikinya yang diperparah oleh minimnya kesadaran terhadap potensi bahaya di jalan. Dua unsur ini, pengetahuan dan kesadaran memiliki keterkaitan yang sangat erat.
Faktor pertama dan kedua, tidak akan saya bahas karena terbesarnya merupakan domain pemerintah. Saya hanya akan fokus menelaah faktor ketiga karena ini berhubungan dengan soal edukasi masyarakat yang nota bene adalah pengguna jalan sekaligus konsumen dari kendaraan yang ditawarkan produsen.
Kembali ke soal tragedi yang dialami Saipul Jamil, dari foto mobil naas yang digunakan dan beredar di media sosial, jelas mobil dimaksud adalah Toyota Avanza yang tergolong katagori MPV. Dan dari gambar yang terbatas itu pula, saya berusaha mengidentifikasi bahwa jenisnya adalah Avanza tipe G bermesin 1.3 liter. Bila identifikasi saya ini benar, berarti mobil tersebut tergolong memiliki fitur keselamatan yang minim antara lain sistem remnya tidak dilengkapi perangkat ABS (Anti-lock Braking System).
Masih terkait dengan analisis foto kecelakaan dan penggalan berita yang beredar, korban tewas Virginia Anggraeni dinyatakan duduk tepat di belakang pengemudi. Penyebab korban tewas juga disebutkan akibat luka di bagian kepala. Tanpa mendahului penyelidikan (bila ada), saya menduga kuat korban di saat peristiwa terjadi tidak menggunakan seat belt. Secara umum, luka di kepala pada peristiwa kecelakaan mobil disebabkan terjadinya benturan dengan bagian mobil. Dan itu dipicu karena korban tidak terikat pada tempat duduknya akibat tidak menggunakan perangkat seat belt.
Pada foto yang beredar, bagian sisi kanan mobil juga terlihat ringsek parah. Perlu diketahui, permukaan tol Cipularang terbuat dari bahan semen yang sangat abrasive. Dan setiap jenis permukaan jalan, sangat berpengaruh pada dinamika kendaraan, khususnya pada situasi panik.
Saya mencoba membuat simulasi, Avanza (yang kabarnya dikemudikan Saipul Jamil sendiri) yang bergerak dari arah Bandung menuju Jakarta dengan kecepatan 100 km/jam. Secara keseluruhan, kontur jalan tol dari arah Bandung itu cenderung menurun termasuk di beberapa titik jalan yang menikung. Boleh jadi, sebuah keadaan tak terduga memaksa pengemudi melakukan pengereman mendadak (panic braking).
Apa yang terjadi? Pada kondisi normal, mobil yang melaju dengan kecepatan 100 km/jam, baru bisa berhenti pada jarak 70 – 80 meter ke depan. Ini setara dengan waktu sekitar 3 detik dari awal kejadian yang menuntut si pengemudi harus menghentikan mobilnya.
Dalam situasi arus balik seperti sekarang, hampir mustahil untuk bisa membuat jarak aman 70 – 80 meter dengan kendaraan di depan. Walhasil, jarak yang rapat inilah yang memaksa si pengemudi melakukan pengereman mendadak.
Kita hubungkan scenario ini dengan spesifikasi mobil yang digunakan. Toyota Avanza tergolong MPV yang sebenarnya berbasis mobil niaga. Ciri khas jenis mobil ini, yakni ground clearance yang tinggi serta roof atau atap yang jangkung. Sesuai spesifikasi standarnya, Avanza memiliki ketinggian total 1.695 mm atau lebih jangkung 235 mm dibandingkan sedan Toyota Vios.
Mobil yang tinggi, memiliki kecenderungan terguling (bodyroll) yang juga tinggi. Efek bodyroll ini, sangat terasa pengaruhnya ketika terjadi momen untuk menahan lajunya seketika melalui tindakan pengereman mendadak. Permukaan jalan yang abrasive, dalam kondisi tertentu member keuntungan karena akan memperpendek jarak berhenti. Tapi pada pengereman mendadak, justru terjadi hambatan yang sangat kuat pada pergerakan roda.
Bila benar jenis mobil Saipul Jamil adalah Avanza 1.3 liter yang tidak dilengkapi ABS, sangat mudah dimengerti bila mobil dimaksud akan berjumpalitan. Penyebabnya, tahanan yang kuat pada putaran roda yang terkunci (lock) dan terjadi tiba-tiba ditambah bobot bagian atap yang tinggi, menghasilkan efek seperti ketapel yang melontarkan kerikil.
Permukaan jalan tol yang terbuat dari semen, juga sangat mungkin menghasilkan efek traksi yang berbeda pada roda di kedua sisi kendaraan. Bila salah satu sisi permukaan semen lebih halus dan licin, pengereman mendadak juga akan berakibat berubahnya arah kendaraan. Daya dorong yang tersisa cukup besar – entah oleh laju mobil maupun oleh permukaan jalan yang menurun – menghasilkan gaya lateral. Pada kondisi ini, kemampuan olah kemudi hanya memberikan kontribusi yang kecil untuk melakukan recovery atau upaya untuk menormalkan posisi kendaraan.
Dari sudut pandang road safety yang memperhatikan acuan teknis kendaraan, sebuah MPV seperti Avanza sesungguhnya tidak didedikasikan oleh produsennya - dalam hal ini Toyota - sebagai kuda pacu. Sesuai gendernya, MPV dirancang untuk family car atau mobil keluarga yang pada hakekatnya mengedepankan kenyamanan (comfort) dan volume kabin (daya angkut) yang baik. Bahkan beberapa produsen mobil yang juga memproduksi MPV seperti Chrysler, menambahkan fitur peringatan bila pengemudi memacu melebihi batas kecepatan aman. Umumnya, peranti peringatan ini akan mengeluarkan bunyi di saat mobil melaju di atas kecepatan 80 km/jam.
Namun, minimnya pemahaman terhadap fungsi sebuah mobil sekaligus rendahnya kesadaran terhadap keselamatan, menyodorkan fenomena lain. Bukan pemandangan aneh, pengguna jalan tol disodori atraksi pengemudi mobil jenis MPV ini melaju dengan kencang bagaikan stuntman atau pembalap di sirkuit. Mereka berakselerasi, meliuk di antara laju mobil lain, tanpa sama sekali memperhitungkan bila kondisi darurat menghadang tiba-tiba.
Avanza sendiri, memang memiliki performa yang tergolong bagus. Tipe G yang dilengkapi mesin 1.3 liter, memproduksi tenaga sekitar 92 hp pada 6.000 rpm. Dengan luaran tenaga seperti itu, Avanza tipe ini memiliki perbandingan tenaga – bobot (power to weight ratio) sekitar 1 hp berbanding 11 kg bobotnya. Bahkan Avanza bermesin 1.5 liter yang menghasilkan tenaga sekitar 110 hp/6000 rpm, memiliki perbandingan tenaga dengan bobot sekitar 1 : 9.8.
Sekarang, bandingkan dengan tingkat keamanan Toyota Vios yang dipersenjatai mesin dengan luaran tenaga yang sama dengan yang dipakai Avanza. Perbandingan tenaga dengan bobot Vios, terpaut sangat tipis dengan Avanza sehingga bila diadu untuk berpacu di jalan lurus, hasilnya akan berimbang.
Tapi yang perlu diperhatikan, kestabilan Vios tentu jauh lebih baik dari Avanza yang jelas lebih jangkung. Jarak tapakan roda Vios juga jauh lebih lebar ketimbang Avanza. Belum lagi bila bicara tentang fitur keselamatan atau safety device. Toyota Vios dilengkapi active safety yang lebih kompl;it. Salah satunya, rem ABS yang juga mulai diaplikasi pada Avanza 1.5 liter.
Namun, pada Vios disempurnakan lagi dengan peranti EBD (Electronic Braking Distribution) yang berfungsi membagi tekanan rem yang bisa berbeda di tiap roda sesuai kebutuhan. Dengan adanya EBD, kemungkinan mobil beruba arah pada saat terjadi pengereman mendadak bisa dieleminir. Fitur tambahan lainnya yakni BA (Brake Assit). Peranti ini, berfungsi mengatur tekanan pedal rem untuk menghindari cengkraman rem yang melebihi kebutuhan.
Pada akhirnya, dengan memahami spesifikasi dan karakter mobil yang Anda gunakan, sebuah kejadian fatal bisa dihindari. Tragedi yang menimpa Saipul Jamil, bisa mengingatkan kealpaan kita tentang bahaya di jalan yang mengancam setiap saat. Dan atas izin Allah, hanya kita pulalah yang menjadi kunci utama menepis bahaya itu. Be smart before you drive, Smart Drive.
@karman_mustamin
Menurut data sementara dari Posko Angkutan Lebaran Terpadu Kementerian Perhubungan hingga H+1 yang dirilis 1 September 2011, tercatat terjadi 2.773 kecelakaan lalu lintas selama mudik lebaran. Sejumlah kecelakaan lalu lintas ini mengakibatkan 433 orang korban meninggal dunia dan 729 orang luka berat. Ini berarti pula, dari tahun ke tahun jumlah korban yang bergelimpangan di jalan terus meningkat dan nyaris tak mendapatkan perhatian dari berbagai pihak. Kecuali, sekadar menjadi konsumsi berita media massa.
Sampai kemudian, terjadi kecelakaan fatal yang melibatkan penyanyi dangdut Saipul Jamil di ruas tol Cipularang. Sangat mudah dimengerti, sebagai seorang artis dan selebriti, kecelakaan yang merenggut nyawa Virginia Anggraeni ini menjadi perbincangan hangat di media sosial. Betapa tidak, dalam kecelakaan dimaksud, Virginia yang istri Saipul Jamil ini dikabarkan tewas di lokasi kejadian.
Sebagai pemerhati keselamatan di jalan raya, saya tergelitik untuk membahas tragedi ini. Bahwa apa yang dialami Saipul Jamil, sebenarnya merupakan peristiwa yang sudah berulang-ulang dan hampir terjadi setiap saat di berbagai ruas jalan di Indonesia. Hasilnya, Indonesia termasuk dalam daftar negara dengan angka kecelakaan di jalan yang tergolong tinggi.
Sebuah data yang dirilis WHO (World Health Organization) menyebutkan jumlah korban tewas akibat kecelakaan lalu lintas di Indonesia pada tahun 2007 diestimasi mencapai angka lebih dari 37 ribu jiwa. Kendati menurut laporan resmi yang dikeluarkan pemerintah, korban tewas pada tahun tersebut hanya sekitar 16.500 jiwa.
Terlepas dari angka-angka yang mestinya mengundang keprihatinan tersebut, saya menengarai setidaknya 3 (tiga) faktor utama yang menopang tingginya angka kecelakaan lalu lintas di Indonesia. Yang pertama, terkait penegakan hukum di jalan dan yang kedua adalah buruknya fasilitas dan sarana transportasi di Indonesia. Lalu yang ketiga, rendahnya pengetahuan masyarakat terhadap kendaraan yang dimilikinya yang diperparah oleh minimnya kesadaran terhadap potensi bahaya di jalan. Dua unsur ini, pengetahuan dan kesadaran memiliki keterkaitan yang sangat erat.
Faktor pertama dan kedua, tidak akan saya bahas karena terbesarnya merupakan domain pemerintah. Saya hanya akan fokus menelaah faktor ketiga karena ini berhubungan dengan soal edukasi masyarakat yang nota bene adalah pengguna jalan sekaligus konsumen dari kendaraan yang ditawarkan produsen.
Kembali ke soal tragedi yang dialami Saipul Jamil, dari foto mobil naas yang digunakan dan beredar di media sosial, jelas mobil dimaksud adalah Toyota Avanza yang tergolong katagori MPV. Dan dari gambar yang terbatas itu pula, saya berusaha mengidentifikasi bahwa jenisnya adalah Avanza tipe G bermesin 1.3 liter. Bila identifikasi saya ini benar, berarti mobil tersebut tergolong memiliki fitur keselamatan yang minim antara lain sistem remnya tidak dilengkapi perangkat ABS (Anti-lock Braking System).
Masih terkait dengan analisis foto kecelakaan dan penggalan berita yang beredar, korban tewas Virginia Anggraeni dinyatakan duduk tepat di belakang pengemudi. Penyebab korban tewas juga disebutkan akibat luka di bagian kepala. Tanpa mendahului penyelidikan (bila ada), saya menduga kuat korban di saat peristiwa terjadi tidak menggunakan seat belt. Secara umum, luka di kepala pada peristiwa kecelakaan mobil disebabkan terjadinya benturan dengan bagian mobil. Dan itu dipicu karena korban tidak terikat pada tempat duduknya akibat tidak menggunakan perangkat seat belt.
Pada foto yang beredar, bagian sisi kanan mobil juga terlihat ringsek parah. Perlu diketahui, permukaan tol Cipularang terbuat dari bahan semen yang sangat abrasive. Dan setiap jenis permukaan jalan, sangat berpengaruh pada dinamika kendaraan, khususnya pada situasi panik.
Saya mencoba membuat simulasi, Avanza (yang kabarnya dikemudikan Saipul Jamil sendiri) yang bergerak dari arah Bandung menuju Jakarta dengan kecepatan 100 km/jam. Secara keseluruhan, kontur jalan tol dari arah Bandung itu cenderung menurun termasuk di beberapa titik jalan yang menikung. Boleh jadi, sebuah keadaan tak terduga memaksa pengemudi melakukan pengereman mendadak (panic braking).
Apa yang terjadi? Pada kondisi normal, mobil yang melaju dengan kecepatan 100 km/jam, baru bisa berhenti pada jarak 70 – 80 meter ke depan. Ini setara dengan waktu sekitar 3 detik dari awal kejadian yang menuntut si pengemudi harus menghentikan mobilnya.
Dalam situasi arus balik seperti sekarang, hampir mustahil untuk bisa membuat jarak aman 70 – 80 meter dengan kendaraan di depan. Walhasil, jarak yang rapat inilah yang memaksa si pengemudi melakukan pengereman mendadak.
Kita hubungkan scenario ini dengan spesifikasi mobil yang digunakan. Toyota Avanza tergolong MPV yang sebenarnya berbasis mobil niaga. Ciri khas jenis mobil ini, yakni ground clearance yang tinggi serta roof atau atap yang jangkung. Sesuai spesifikasi standarnya, Avanza memiliki ketinggian total 1.695 mm atau lebih jangkung 235 mm dibandingkan sedan Toyota Vios.
Mobil yang tinggi, memiliki kecenderungan terguling (bodyroll) yang juga tinggi. Efek bodyroll ini, sangat terasa pengaruhnya ketika terjadi momen untuk menahan lajunya seketika melalui tindakan pengereman mendadak. Permukaan jalan yang abrasive, dalam kondisi tertentu member keuntungan karena akan memperpendek jarak berhenti. Tapi pada pengereman mendadak, justru terjadi hambatan yang sangat kuat pada pergerakan roda.
Bila benar jenis mobil Saipul Jamil adalah Avanza 1.3 liter yang tidak dilengkapi ABS, sangat mudah dimengerti bila mobil dimaksud akan berjumpalitan. Penyebabnya, tahanan yang kuat pada putaran roda yang terkunci (lock) dan terjadi tiba-tiba ditambah bobot bagian atap yang tinggi, menghasilkan efek seperti ketapel yang melontarkan kerikil.
Permukaan jalan tol yang terbuat dari semen, juga sangat mungkin menghasilkan efek traksi yang berbeda pada roda di kedua sisi kendaraan. Bila salah satu sisi permukaan semen lebih halus dan licin, pengereman mendadak juga akan berakibat berubahnya arah kendaraan. Daya dorong yang tersisa cukup besar – entah oleh laju mobil maupun oleh permukaan jalan yang menurun – menghasilkan gaya lateral. Pada kondisi ini, kemampuan olah kemudi hanya memberikan kontribusi yang kecil untuk melakukan recovery atau upaya untuk menormalkan posisi kendaraan.
Dari sudut pandang road safety yang memperhatikan acuan teknis kendaraan, sebuah MPV seperti Avanza sesungguhnya tidak didedikasikan oleh produsennya - dalam hal ini Toyota - sebagai kuda pacu. Sesuai gendernya, MPV dirancang untuk family car atau mobil keluarga yang pada hakekatnya mengedepankan kenyamanan (comfort) dan volume kabin (daya angkut) yang baik. Bahkan beberapa produsen mobil yang juga memproduksi MPV seperti Chrysler, menambahkan fitur peringatan bila pengemudi memacu melebihi batas kecepatan aman. Umumnya, peranti peringatan ini akan mengeluarkan bunyi di saat mobil melaju di atas kecepatan 80 km/jam.
Namun, minimnya pemahaman terhadap fungsi sebuah mobil sekaligus rendahnya kesadaran terhadap keselamatan, menyodorkan fenomena lain. Bukan pemandangan aneh, pengguna jalan tol disodori atraksi pengemudi mobil jenis MPV ini melaju dengan kencang bagaikan stuntman atau pembalap di sirkuit. Mereka berakselerasi, meliuk di antara laju mobil lain, tanpa sama sekali memperhitungkan bila kondisi darurat menghadang tiba-tiba.
Avanza sendiri, memang memiliki performa yang tergolong bagus. Tipe G yang dilengkapi mesin 1.3 liter, memproduksi tenaga sekitar 92 hp pada 6.000 rpm. Dengan luaran tenaga seperti itu, Avanza tipe ini memiliki perbandingan tenaga – bobot (power to weight ratio) sekitar 1 hp berbanding 11 kg bobotnya. Bahkan Avanza bermesin 1.5 liter yang menghasilkan tenaga sekitar 110 hp/6000 rpm, memiliki perbandingan tenaga dengan bobot sekitar 1 : 9.8.
Sekarang, bandingkan dengan tingkat keamanan Toyota Vios yang dipersenjatai mesin dengan luaran tenaga yang sama dengan yang dipakai Avanza. Perbandingan tenaga dengan bobot Vios, terpaut sangat tipis dengan Avanza sehingga bila diadu untuk berpacu di jalan lurus, hasilnya akan berimbang.
Tapi yang perlu diperhatikan, kestabilan Vios tentu jauh lebih baik dari Avanza yang jelas lebih jangkung. Jarak tapakan roda Vios juga jauh lebih lebar ketimbang Avanza. Belum lagi bila bicara tentang fitur keselamatan atau safety device. Toyota Vios dilengkapi active safety yang lebih kompl;it. Salah satunya, rem ABS yang juga mulai diaplikasi pada Avanza 1.5 liter.
Namun, pada Vios disempurnakan lagi dengan peranti EBD (Electronic Braking Distribution) yang berfungsi membagi tekanan rem yang bisa berbeda di tiap roda sesuai kebutuhan. Dengan adanya EBD, kemungkinan mobil beruba arah pada saat terjadi pengereman mendadak bisa dieleminir. Fitur tambahan lainnya yakni BA (Brake Assit). Peranti ini, berfungsi mengatur tekanan pedal rem untuk menghindari cengkraman rem yang melebihi kebutuhan.
Pada akhirnya, dengan memahami spesifikasi dan karakter mobil yang Anda gunakan, sebuah kejadian fatal bisa dihindari. Tragedi yang menimpa Saipul Jamil, bisa mengingatkan kealpaan kita tentang bahaya di jalan yang mengancam setiap saat. Dan atas izin Allah, hanya kita pulalah yang menjadi kunci utama menepis bahaya itu. Be smart before you drive, Smart Drive.
@karman_mustamin
Sabtu, 03 September 2011
2.998 Kecelakaan Terjadi Selama Mudik Lebaran
JAKARTA, KOMPAS.com — Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Sudirman Lambali mengungkapkan bahwa selama arus mudik Lebaran sejak (H-7) pada 23 Agustus 2011 hingga hari kedua Lebaran pada 31 Agustus 2011, jumlah kecelakaan sebanyak 2.998 peristiwa. Dari jumlah tersebut tercatat korban meninggal mencapai 490 orang, korban luka berat 811 orang, dan korban luka ringan sebesar 2.027 orang.
"Kecelakaan paling banyak terjadi pada kendaraan roda dua. Ya, memang banyak yang lebih senang memakai kendaraan roda dua dibandingkan angkutan umum. Akan tetapi, risikonya kan lebih besar. Itu baru data hingga H ke-2. Data sementara jumlah kecelakaan lalu lintas H+1 akan dilaporkan nanti. Data ini berasal dari Posko Korlantas Polri," ujar Sudirman di Gedung Kementerian Perhubungan, Jakarta, Jumat (2/9/2011).
Jumlah kecelakaan ini, menurut Sudirman, mengalami peningkatan dibanding jumlah kecelakaan saat mudik pada tahun 2010. Dari catatan posko tersebut pada tahun lalu, jumlah kecelakaan mencapai 2.246 peristiwa. Dari jumlah itu, korban yang meninggal dunia sebanyak 539 orang dan jumlah korban luka berat sebanyak 660 orang. Sementara itu, sebanyak 1.283 orang mengalami luka ringan dalam kecelakaan saat perjalanan mudik.
Oleh karena jumlah kecelakaan yang meningkat, Sudirman mengimbau kepada para pemudik yang menggunakan transportasi darat agar melewati jalur utama yang telah disediakan. Menurutnya, jalan pintas ataupun jalan perkampungan yang dipilih sebagai jalan alternatif pemudik justru lebih rawan kecelakaan.
"Para pemudik sebaiknya gunakan jalur-jalur utama yang sudah ditentukan. Dari pengalaman Lebaran tahun-tahun sebelumnya, justru di jalan-jalan perkampungan itu lebih banyak kecelakaan. Kalau jalan-jalan utama kan (pengaturan dan pemantauan) sudah diperketat dengan posko-posko dan petugas," ujar Sudirman di Posko Pantauan Arus Mudik Lebaran di Gedung Kementerian Perhubungan, Jumat.
Terakhir, ia kembali memperingatkan para pemudik untuk berhati-hati di jalan dan menggunakan fasilitas posko di jalur utama untuk beristirahat jika lelah dalam perjalanan.
"Pemudik jangan memaksakan diri. Jika lelah, ya beristirahat terlebih dahulu. Tidak perlu terburu-buru. Justru itu yang menyebabkan kecelakaan, yaitu karena lelah dan tidak konsentrasi," ungkap Sudirman.
"Kecelakaan paling banyak terjadi pada kendaraan roda dua. Ya, memang banyak yang lebih senang memakai kendaraan roda dua dibandingkan angkutan umum. Akan tetapi, risikonya kan lebih besar. Itu baru data hingga H ke-2. Data sementara jumlah kecelakaan lalu lintas H+1 akan dilaporkan nanti. Data ini berasal dari Posko Korlantas Polri," ujar Sudirman di Gedung Kementerian Perhubungan, Jakarta, Jumat (2/9/2011).
Jumlah kecelakaan ini, menurut Sudirman, mengalami peningkatan dibanding jumlah kecelakaan saat mudik pada tahun 2010. Dari catatan posko tersebut pada tahun lalu, jumlah kecelakaan mencapai 2.246 peristiwa. Dari jumlah itu, korban yang meninggal dunia sebanyak 539 orang dan jumlah korban luka berat sebanyak 660 orang. Sementara itu, sebanyak 1.283 orang mengalami luka ringan dalam kecelakaan saat perjalanan mudik.
Oleh karena jumlah kecelakaan yang meningkat, Sudirman mengimbau kepada para pemudik yang menggunakan transportasi darat agar melewati jalur utama yang telah disediakan. Menurutnya, jalan pintas ataupun jalan perkampungan yang dipilih sebagai jalan alternatif pemudik justru lebih rawan kecelakaan.
"Para pemudik sebaiknya gunakan jalur-jalur utama yang sudah ditentukan. Dari pengalaman Lebaran tahun-tahun sebelumnya, justru di jalan-jalan perkampungan itu lebih banyak kecelakaan. Kalau jalan-jalan utama kan (pengaturan dan pemantauan) sudah diperketat dengan posko-posko dan petugas," ujar Sudirman di Posko Pantauan Arus Mudik Lebaran di Gedung Kementerian Perhubungan, Jumat.
Terakhir, ia kembali memperingatkan para pemudik untuk berhati-hati di jalan dan menggunakan fasilitas posko di jalur utama untuk beristirahat jika lelah dalam perjalanan.
"Pemudik jangan memaksakan diri. Jika lelah, ya beristirahat terlebih dahulu. Tidak perlu terburu-buru. Justru itu yang menyebabkan kecelakaan, yaitu karena lelah dan tidak konsentrasi," ungkap Sudirman.
Jumat, 02 September 2011
Perhiasan Senilai Rp 452 Juta Tertimbun Sampah
BRISBANE, KOMPAS.com — Maksudnya sih ingin mengecoh pencuri, tetapi malah dirundung rasa bersalah! Seorang pria Australia memohon kepada dewan kota untuk mengizinkannya membongkar tumpukan sampah, Selasa, setelah ia secara tak sengaja membuang perhiasan istrinya seharga 50.000 dollar Australia (53.000 dollar AS).
Pria tersebut, yang hanya disebut sebagai Geoff, mengatakan, perhiasan yang tidak diasuransikan itu disimpan di dalam tas plastik untuk mengecoh perampok. Tetapi, mereka keliru membuangnya ke tempat sampah di luar rumahnya pekan lalu dalam aksi bersih-bersih sebelum pindahan.
"Kami akan pindah rumah, dan saya memberi tahu anak-anak untuk memberikan semua sampah yang berceceran kepada saya untuk saya buang," kata lelaki tersebut kepada surat kabar Brisbane, Courier-Mail. "Istri saya menelepon saya ketika saya sedang kerja dan berkata, 'Tas itu di mana?'," katanya. "Kamu tahu kan perasaan yang muncul? Wadduuhh!"
Koleksi perhiasan itu meliputi gelang tangan, gelang kaki, dan emas batangan. Juru bicara Sunshine Coast Regional Council Gary Reeve mengatakan kepada wartawan bahwa sangat kecil harapan untuk menemukan perhiasan tersebut sebab tempatnya menerima ribuan ton sampah setiap pekan.
Geoff mengatakan, istrinya telah menghadapi kejadian itu dengan baik, tetapi perasaannya berkata lain. Ia seperti mendengar suara, "Hei... harga emas sudah melambung. Ingin rasanya saya berteriak, 'Diam!!'."
Pria tersebut, yang hanya disebut sebagai Geoff, mengatakan, perhiasan yang tidak diasuransikan itu disimpan di dalam tas plastik untuk mengecoh perampok. Tetapi, mereka keliru membuangnya ke tempat sampah di luar rumahnya pekan lalu dalam aksi bersih-bersih sebelum pindahan.
"Kami akan pindah rumah, dan saya memberi tahu anak-anak untuk memberikan semua sampah yang berceceran kepada saya untuk saya buang," kata lelaki tersebut kepada surat kabar Brisbane, Courier-Mail. "Istri saya menelepon saya ketika saya sedang kerja dan berkata, 'Tas itu di mana?'," katanya. "Kamu tahu kan perasaan yang muncul? Wadduuhh!"
Koleksi perhiasan itu meliputi gelang tangan, gelang kaki, dan emas batangan. Juru bicara Sunshine Coast Regional Council Gary Reeve mengatakan kepada wartawan bahwa sangat kecil harapan untuk menemukan perhiasan tersebut sebab tempatnya menerima ribuan ton sampah setiap pekan.
Geoff mengatakan, istrinya telah menghadapi kejadian itu dengan baik, tetapi perasaannya berkata lain. Ia seperti mendengar suara, "Hei... harga emas sudah melambung. Ingin rasanya saya berteriak, 'Diam!!'."
Rumah Bisa Persulit Perceraian?
BEIJING, KOMPAS.com - Mungkin warga China akan berpikir ulang jika hendak bercerai. Biasanya, pasangan yang bercerai membagi hartanya untuk suami dan istri. Tetapi, belakangan muncul aturan baru dari pengadilan tinggi China bahwa rumah yang dimiliki suami atau istri sebelum menikah tetap menjadi hak suami atau istri sepenuhnya.
Tentu hal ini ditentang kaum perempuan China, yang menganggap aturan ini menguntungkan lelaki, yang secara tradisional mempunyai rumah. ”Dengan aturan baru ini, lelaki tidak lagi harus bertanggung jawab dengan apa yang terjadi pada perempuan setelah bercerai,” ujar Xu Weiqin (40), penduduk Beijing.
Lelaki China memang diharapkan membelikan rumah jika mereka hendak menikah. Pernikahan tanpa rumah disebut ”pernikahan telanjang”. Sejumlah orangtua bahkan mulai mencicil rumah setelah mengetahui anaknya lelaki.
”Orangtua yang membelikan rumah untuk anaknya biasanya khawatir, jika anaknya bercerai, harta keluarga akan hilang,” ujar juru bicara pengadilan Sun Jungong.
Ternyata, para istri tidak kalah cerdik, mereka meminta suami menambahkan nama istri di sertifikat kepemilikan rumah. Perceraian sekarang menjadi hal biasa di China, dengan sekitar 5.000 orang bercerai setiap hari. (Reuters/Joe)
Tentu hal ini ditentang kaum perempuan China, yang menganggap aturan ini menguntungkan lelaki, yang secara tradisional mempunyai rumah. ”Dengan aturan baru ini, lelaki tidak lagi harus bertanggung jawab dengan apa yang terjadi pada perempuan setelah bercerai,” ujar Xu Weiqin (40), penduduk Beijing.
Lelaki China memang diharapkan membelikan rumah jika mereka hendak menikah. Pernikahan tanpa rumah disebut ”pernikahan telanjang”. Sejumlah orangtua bahkan mulai mencicil rumah setelah mengetahui anaknya lelaki.
”Orangtua yang membelikan rumah untuk anaknya biasanya khawatir, jika anaknya bercerai, harta keluarga akan hilang,” ujar juru bicara pengadilan Sun Jungong.
Ternyata, para istri tidak kalah cerdik, mereka meminta suami menambahkan nama istri di sertifikat kepemilikan rumah. Perceraian sekarang menjadi hal biasa di China, dengan sekitar 5.000 orang bercerai setiap hari. (Reuters/Joe)
Jerman Punya Meteran Pajak Seks
BONN, KOMPAS.com — Pemerintah kota Bonn, bekas ibu kota Jerman Barat, akhirnya menemukan cara untuk menarik pajak pendapatan dari PSK jalanan. Temuan itu berupa sebuah meteran parkir yang mencetak tiket bagi para PSK jalanan. Harga sebuah tiket untuk operasi semalam adalah 6 euro (atau Rp 73.000).
Di Jerman, PSK membayar pajak pendapatan untuk setiap transaksi seks mereka, yang besarnya bervariasi di setiap wilayah. Namun, sejumlah pemerintah kota kesulitan untuk menegakkan aturan pajak itu terhadap para PSK yang beroperasi di jalanan.
Temuan tersebut dinilai sebagai sebuah terobosan. "Kami berharap bisa mendapatkan sekitar 200.000 euro (setara Rp 2,4 miliar) per tahun dari meteran itu," kata perwakilan pemerintah, Isabelle Klotz, kepada AFP.
Meteran tersebut diresmikan akhir pekan lalu di sebuah kawasan industri, dekat pusat kota, yang biasa digunakan para PSK untuk menjaring klien mereka. Para PSK harus membayar 6 euro per malam ketika mereka mau beroperasi, tidak peduli mereka mendapat pelanggan atau tidak.
Menurut Klotz, pada hari pertama penerapan meteran itu, Senin lalu, sebanyak 264 euro (Rp 3,2 juta) berhasil dikumpulkan. Di seluruh Bonn ada sekitar 200 PSK yang diyakini sesekali turun ke jalan-jalan kota itu, tetapi semalam rata-rata hanya 20 PSK yang berkeliaran.
Jika seorang PSK ketahuan tidak membeli tiket, yang berlaku dari pukul 20.00 hingga pukul 06.00, maka mereka untuk kali pertama akan diperingatkan dan kemudian didenda. "Inspektur akan memonitor. Tidak setiap malam, tetapi akan sering," kata Klotz.
Selebaran dalam bahasa Jerman dan bahasa lainnya telah diedarkan untuk menginformasikan aturan baru itu kepada para PSK.
"Kota-kota lain juga memajaki para pelacur, tetapi kami adalah yang pertama yang punya meteran ini," kata Klotz. "Perempuan yang bekerja di rumah bordil juga membayar pajak. Namun, sampai sekarang sulit untuk memperoleh pajak dari PSK di jalanan. Berkat metode baru ini, kami akan mampu memajaki mereka sehingga adil bagi yang lain," katanya.
Namun, Juanita Rosina Henning, aktivis dari kelompok pendukung PSK Dona Carmen, menyerukan penghapusan meteran itu. Ia mengatakan, para PSK itu telah membayar pajak atas penghasilan mereka. "Ini tidak ada hubungannya dengan kesetaraan fiskal," katanya.
Di Jerman, PSK membayar pajak pendapatan untuk setiap transaksi seks mereka, yang besarnya bervariasi di setiap wilayah. Namun, sejumlah pemerintah kota kesulitan untuk menegakkan aturan pajak itu terhadap para PSK yang beroperasi di jalanan.
Temuan tersebut dinilai sebagai sebuah terobosan. "Kami berharap bisa mendapatkan sekitar 200.000 euro (setara Rp 2,4 miliar) per tahun dari meteran itu," kata perwakilan pemerintah, Isabelle Klotz, kepada AFP.
Meteran tersebut diresmikan akhir pekan lalu di sebuah kawasan industri, dekat pusat kota, yang biasa digunakan para PSK untuk menjaring klien mereka. Para PSK harus membayar 6 euro per malam ketika mereka mau beroperasi, tidak peduli mereka mendapat pelanggan atau tidak.
Menurut Klotz, pada hari pertama penerapan meteran itu, Senin lalu, sebanyak 264 euro (Rp 3,2 juta) berhasil dikumpulkan. Di seluruh Bonn ada sekitar 200 PSK yang diyakini sesekali turun ke jalan-jalan kota itu, tetapi semalam rata-rata hanya 20 PSK yang berkeliaran.
Jika seorang PSK ketahuan tidak membeli tiket, yang berlaku dari pukul 20.00 hingga pukul 06.00, maka mereka untuk kali pertama akan diperingatkan dan kemudian didenda. "Inspektur akan memonitor. Tidak setiap malam, tetapi akan sering," kata Klotz.
Selebaran dalam bahasa Jerman dan bahasa lainnya telah diedarkan untuk menginformasikan aturan baru itu kepada para PSK.
"Kota-kota lain juga memajaki para pelacur, tetapi kami adalah yang pertama yang punya meteran ini," kata Klotz. "Perempuan yang bekerja di rumah bordil juga membayar pajak. Namun, sampai sekarang sulit untuk memperoleh pajak dari PSK di jalanan. Berkat metode baru ini, kami akan mampu memajaki mereka sehingga adil bagi yang lain," katanya.
Namun, Juanita Rosina Henning, aktivis dari kelompok pendukung PSK Dona Carmen, menyerukan penghapusan meteran itu. Ia mengatakan, para PSK itu telah membayar pajak atas penghasilan mereka. "Ini tidak ada hubungannya dengan kesetaraan fiskal," katanya.
Langganan:
Postingan (Atom)